Selasa, 23 Februari 2016

Teman lama, rahasia kecil yang pernah ada

Bertemu lagi dengan teman lama, apa rasanya?
senanglah!!!! Yeahhhhhh.....
Tapi apa jadinya bila kita pernah diam-diam menyukainya?
Apa jadinya bila kita pernah memperhatikannya?
dan apa jadinya bila rahasia kecil itu, terungkap????

Gue enggak pernah mau mengakui perasaan gue kepada siapapun. Siapapun!!!
apalagi pada orang yang pernah gue sukai. Namun kepala gue bisa pecah kalau gue terus-menerus memikirkan apa yang akan terjadi!

Yach mungkin tidak terjadi apa-apa karena harapan tentang terbalasnya rasa sudah tidak terbesit sedikit pun. Apalagi bila melihatnya sudah memiliki orang yang dicintainya. Harapan untuk terbangunnya rasa itu kembali sudah sangat tidak mungkin.

Terlebih lagi gue suka bersamaan dengan teman gue yang juga suka padanya. Teman gue yang minta tolong bantuin didekatin sama dia, dan gue benar-benar tidak profesional untuk menjadi Mak Comblang!

Apa-apan ini mak combang, juga ikut-ikutan suka. Emangnya gak ada apa sasaran untuk Mak Comblang. hahahhahah (Kalau diingat-ingat lucu juga ya) Cinta dengan usia masih belia, boro-boro mikirin mau berduaan saja sama dia (Orang yang kita suka), malah takut kalau sampai tuh orang tau. Kesannya bagi gue jatuh cinta seakan Nista dan penuh dosa.

Kalau dipikir mengapa gue bisa suka sama dia, apanya yang menarik??
Kalau dibilang dia ganteng, yach lumayanlah untuk ukuran anak sma. hehheheh
tapi sejujurnya, gue benci banget sama, dia terlalu angkuh membuka hatinya untuk teman gue!
What!!! terus ngapain loe berusaha mendobrak masuk ke dalam hatinya?
Apa loe sudah gila! Jatuh cinta yang kepada orang yang seperti itu?

Gue hanya melihat, sepertinya dia memiliki perasaan yang mahal untuk sekedar diumbar-umbar.

Orang itu, orang yang gue suka, menurut gue pemarah, sensitif, dan suka marah-marah sama gue. Dan gue bisa suka sama orang kayak gitu. Entahlah, gue juga bingung. Perasaan gue kalau bisa ngobrol aja udah senang, tapi bukannya ngobrol dia malah langsung marah, jadi gue lucu sendiri sama tuh orang. Makanya gue enggak pernah marah ataupun benci.  Tapi walaupun dia suka marah-marah, bicaranya lembut! (Beda sama nyokap dengan logat bataknya, hehhehe)

 Yang paling gue suka waktu dia sedang tersenyum, Ya ampun, ribuan pohon tebu berguguran kali, menebarkan manisnya. hahahhahahha. soalnya dia enggak pernah senyum sama gue, dia selalu marah, marah dan marah. (Gue yakin tuh orang marahnya gak serius)

Tapi disisi lain gue merasa berdosa sama teman gue, karena diam-diam gue juga sama seperti dia dan lebih parahnya lagi dia enggak tahu (hikkk...hikkss...hikkksss....). jahat banget gue! tapi gimana dong terkadang gue juga senang kalau dia nyucekin teman gue ini (benar-benar jahat gue saat itu).

Kadang rasa suka bisa seperti itu yach, susah dikendalikan bila terjadi, susah dituruti bila sudah terasa, dan susah untuk berbuat apa. Tapi jujur ya, gue suka sama dia pun gue enggak punya maksud apa-apa. berharap dia tahu aja, mending enggak usah deh, apalagi mengaku dihadapannya.

Tapi bagaimana kalau rahasia kecil itu, akhirnya muncul dipermukaan? Apa yang harus loe lakukan! Malu, iya pertamanya tetapi biarlah, perasaan yang pernah terjadi, perasaan yang tempatnya disatu waktu yang sudah terangkum.

Walaupun saat ini orangnya sudah tahu, perasaan masa itu, gue enggak berharap apapun kok, enggak berharap mengembalikan perasaan itu, enggak berharap apapun. Karena gue pikir, biarkan perasaan yang telah lewat itu tetap menjadi kenangan indah dan sweet untuk sekedar dikenang kembali. bukan untuk diwujudkan apalagi dimunculkan lagi dengan minta jawaban yang berbeda.

Perasaan senang, bahagia iya, siapa yang tidak senang bertemu kembali dengan teman lamanya yang memiliki cerita sendiri dihati.



 

Jumat, 04 Desember 2015

Janji manis atau Janji Suci

Pernikahan

bukan hanya janji kepada mempelai, bukan juga janji kepada kedua orang tua mempelai, bukan janji manis yang disaksikan oleh puluhan saksi yang datang, tetapi janji suci dihadapan Allah.

Masihkah kau berani mempermainkan pernikahan, dalam bentuk godaan nafsu. Entahlah, aku tidak mengerti, bila selingkuh terjadi dalam pernikahan. Masihkah kepercayaan terbangun, masihkah setia bukti pengabdian , mungkin kau tidak menghargainya, karena kau melupakan janji suci dihadapan Allah, saat meminta wanitamu.

Aku tak habis pikir, temanku yang satu ini, sangat kuat hatinya. Aku saja mendengarnya berluluran air mata. Kesetiaannya dikorbankannya, dia mengetahui suaminya selingkuh untuk yang kedua kalinya.
Apa?????? dua kali???? apa dia lebih bodoh dari seekor keledai???
dia manusia yang diberi akal pikiran, dia manusia yang diberi kehendak.
Apa istrinya yang harus disalahkan, atas perbuatannya itu?
Apa istrinya sudah tidak menarik hatinya lagi?

Harusnya kau tahu, perubahan istri adalah karenamu, cantik atau tidaknya istri adalah atas pemberianmu. wahai lelaki, yang harus kau ingat saat wanita menjadi istri dia akan menempatkanmu diatas kepentingannya, dia akan memperhatikan dirinya untuk dirimu, namun saat dia memiliki anak, kepentingannya sudah menjadi tidak penting, dirimu dan anakmu yang terpenting.

Bahkan uang beli bedaknya rela ditukar untuk membeli pampers. Uang beli bajunya rela diganti untuk beli susu. dia bahkan takut ke salon berlama-lama, karena dia takut anaknya tidak menemukannya disaat anaknya menangis. Dan kau masih berani menyalahkan tidak cantiknya istrimu bisa jadi alasan untukmu mencari wanita lain.

Bahkan kau membohonginya bekerja selarut malam, dan dihari libur. seharian dia dirumah, mengurus rumah, mengurus anak, berusaha membuatkan makanan untukmu dan kau lebih memilih untuk melihat wanita cantik yang tidak ada hakmu kepadanya. Namun kau memiliki kewajiban dalam rumahmu, pada istrimu dan anakmu.

Istrimu sangat tahu kau lelah mencari nafkah, namun kau berusaha membuat istrimu bersalah karena kau sudah lelah seharian dan butuh yang segar, apa kabar istrimu yang setiap hari dirumah, berkutat dengan rutinitas yang sama, dan kau tidak pernah mengajaknya keluar, untuk sekedar menikmati angin bersama. bahkan kau melarang istrimu berteman dengan teman-temannya.

Apa kau lupa, sebelum bertemu denganmu, kami sudah saling berkawan. Siapa kau??? Seorang pemegang kunci surga untuknya, pantaskah kau membuatnya menangis.

Namun dia bertahan dia merasa dirinya penuh kekurangan, lalu kau?
Dia bertahan, dengan mengatakan, suaminya hanya manusia biasa?
kau sudah melukai hati seorang bidadari
Dia memaafkan, pernikahan adalah ibadah, namanya ibadah ada ujiannya kalaupun bahagia itu adalah bonus.
Dia membelamu dihadapan kami teman-temannya, Pernikahan adalah kita sendiri yang mengerti, memahami dan menjalani.
Dia terus memaafkan dan menunggu suaminya terus-menerus memperbaiki diri, untuk menjadi imam yang terbaik untuknya dan anaknya.

Kau harus tahu, Air matanya adalah doa untukmu, kesalahanmu adalah pembelajaran yang terus-menerus yang diikhlaskannya. Kekuatannya adalah janji suci yang kau ucapkan dihadapkan Allah sejak kedua orang tuanya memberikan dirinya kepadamu.
Dia mengatakan dengan senyum, engkau adalah kunci surga dari manusia tidak sempurna yang telah dia pilih.



Kamis, 03 Desember 2015

Batas....



Ya Allah…
Apa ini semua?
Aku tidak mengerti, apa karena aku mengikhlaskannya.
Merelakan rasaku perlahan pergi bukan untuknya lagi.
Ya Tuhanku, setelah empat tahun aku menyukai seseorang dan dua tahun aku mulai merakit hati lagi. Aku jatuh cinta lagi.
Terima kasih atas Anugerah-Mu berupa cinta.
Aku pikir aku tidak akan bisa jatuh cinta lagi. Aku pikir aku tidak mampu untuk tersenyum lagi.
Namun Kau mempertemukan aku dengannya.
Entahlah walau aku tidak menyadarinya, bahkan aku juga tidak memperdulikannya.
Namun lama kelamaan aku mulai mengaguminya. Bahkan perasaan itu hadir kembali.
Perasaan enam tahun yang lalu dengan orang yang berbeda.
Namun lagi-lagi tetap sama, aku jatuh cinta sendirian.
Aku tidak berani mengungkap rasa, namun jelas dia terasa, ada didalam relung jiwa
yang meronta. Bukankah dengan begitu hatiku hidup kembali. aku sadar cinta tidak hilang, 
dia bersembunyi dalam ketakutan, dia menyimpan dalam penantian, dan dia hanya akan berpindah. 
dia (Cinta) tidak hilang, tidak pernah benar-benar hilang. seperti matahari yang selalu bersinar dalam perpindahan waktu. 
Aku menyukainya, aku memerlukan tenaga untuk mencintai tanpa harus dicintai.
Bodoh memang, menurut sebagian teman-temanku. Termaksud kodrat wanita yang katanya lebih baik dicintai daripada mencintai. (Aku berdebat keras untuk hal ini)
Malah ada yang bilang, "Elo terlalu berharga untuk menunggu satu orang, yang belum tentu orang yang elo tunggu memiliki rasa yang sama?" 
Memang terdengar aneh bahkan terkadang aku tidak menyukai diriku yang selalu berbeda dengan teman-temanku.  Aku selalu berpikir seseorang yang menunggu akan mendapatkan sepantasnya. Aku tidak menunggu dirinya, lagipula memangnya aku tahu aku akan berjodoh kelak dengannya atau tidak. 
Aku menunggu pemberian Allah dalam hijrahku, dalam perjalananku memperbaiki diri. Aku menunggu ridho Allah, walaupun aku tidak pantas mendapatkan lelaki soleh, tapi setidaknya aku bisa bersanding dengan lelaki, yang sama-sama sedang dan terus memperbaiki diri. 
Aku tahu siapa diriku, dan aku cukup sadar untuk sekedar tahu diri, namun cinta adalah fitrah yang tidak bisa timbulkan begitu saja, kecuali yang Maha mempunyai Hak, bersedia menumbuhkan rasa dihati setiap jiwa. 
 
Katanya lagi yang mencintai, tidak akan pernah menyakiti kita. Terus kita yang dicintai???
Apakah kita mampu menyakiti dengan perasaan yang tidak sama dengannya, berpura-pura bahagia ketika bersamanya, apakah itu tidak akan menyakitinya, dan akan menyiksa kita, kecuali kita akan selalu belajar untuk mencintainya. Dan dia harus tahu, proses belajar, tidak cepat dan perlu waktu, semoga dia akan memahaminya. 
Kita akan egois, ketika kita hanya ingin dicintai. Ingat setiap manusia punya hak yang sama untuk saling mencintai dan dicintai. Seharusnya kita mengerti ketika kita jatuh cinta kepada seseorang, belum tentu orang yang kita cintai mempunyai perasaan yang sama dengan kita. Namun ketika kita menerima orang yang mencintai kita, kita harus benar-benar belajar mencintainya.   
Aku tidak peduli dia mencintaiku atau tidak, aku senang karena aku bisa jatuh cinta lagi. Aku tidak ingin hatiku hampa tanpa rasa untuk seseorang. Aku bukannya takut tidak bisa dicintai orang lain, tetapi yang aku takutkan adalah, dimana aku tidak pernah punya kesempatan untuk memberikan cinta dihatiku. Entahlah untuknya atau biarkan Dia yang akan memindahkannya kepada orang yang tepat. 
 

Batas. Aku sendiri yang membatasi hatiku, aku membatasi seseorang untuk masuk kedalam hatiku. Tidak untuk sekarang. Aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri. Aku tidak ingin seorangpun mencoba memasuki hatiku. Aku sudah menyukai seseorang dan aku ingin tetap menyukainya. Tidak peduli rasanya apapun. 
Aku tahu ini hal yang bodoh, tapi biarkanlah, hingga rasa ini berganti dengan jodoh yang sudah dipilihkan-Nya.

Aku berdebat keras tentang ini. Banyak dari mereka yang ingin dicintai daripada mencintai (lebih kebanyakan wanita)? banyak dari mereka yang tidak ingin punya rasa sekecil apapun daripada rasanya tidak terbalas? banyak dari mereka yang lebih baik hampa dan tak ingin jatuh cinta lagi? banyak dari mereka yang lebih baik membenci mantan atau orang-orang dari masa lalu mereka. 
Entahlah mungkin aku tidak sependapat dengan mereka.
Oke, tidak munafik, aku ingin bahagia dengan dicintai namun adakah jaminannya, orang yang mencintai kita akan selalu membahagiakan kita. orang yang kita kagumi, tidak akan membuat kesalahan, ingat manusia selalu berpeluang untuk salah. Tidak! semua butuh proses, hukumnya dalam cinta ada suka dan duka, ada tawa bahagia, tawa haru namun ada tangisan kesedihan. Dan semua butuh penerimaan dan pembelajaran.

Ada beberapa yang mencoba ingin mengenalku, ya, sekedar ingin mengenal, Entahlah aku terlalu membatasi untuk itu. Entahlah untuk seorang Introvet aku lebih peduli diriku sendiri mungkin saja iya. Aku berkenalan dengan seorang cowok, dia seorang cowok dengan status sendiri dan memiliki anak satu, aku sendiri tidak membatasi untuk berteman melalui medsos, namun ketika dia ingin bertemu, rasa takutku mulai bergejolak,  entah apa yang diinginkannya dariku. 

Aku sendiri takut akan harapan seseorang kepadaku, (Maka dari itu aku tidak akan pernah memaksakan perasaan orang lain) entahlah aku selalu membatasi untuk hal-hal seperti ini, dan benar-benar susah jadi jomblo ya, semua teman-teman berusaha menyodorkan seseorang untuk sekedar berkenala, jalan atau menjalin pertemanan lewat medsos

Aku sadar, aku tidak bisa menutup diri terus, aku sadar aku harus lebih peduli pada sekitar, terutama orang-orang yang berusaha ingin peduli padaku, tapi aku enggak bisa Ya Allah, aku tidak ingin, aku hanya ingin semuanya mengalir alami, seperti apa adanya, yang tidak perlu terburu-buru, kasak-kusuk. Kalaupun kita berteman, ya kita berteman saja dulu, kalaupun kita berjodoh, waktu akan mengungkapnya. 
 

Senin, 14 September 2015

Happy B'day To Me :)

Hi...Blogy...

aku tahu nih, pasti kamu mau ucapin selamat ulang tahun ya ke Aku :)
Makasih ya Blogy *Peluk..peluk..cium..cium..*

Blogy, Maaf ya aku jarang nulis nih, coz kamu kan tahu blogy, aku sibuk banget, hehhhe. Iya deh nanti In Shaa Allah aku akan rajin nulis di kamu deh, hhehhe

Blogy, kamu tahu pasti mau tahu kan, doa apa yang aku pinta malam ini???? hehhe
sttststtss...Rahasia dong??!!!!

Aku hanya ingin makin rajin sholat, semoga bisa lancarin baca Al-Quran, sedikit-sedikit mulai bisa enggak cepat marah, ngambek, egois, pokoknya mau ngilangin sifat-sifat jelek deh, hehe
Terutama mulai enggak mau nyakitin lagi hati orang-orang terdekatku (Mama, Abah, adik-adikku, kakak, saudara dan sahabatku), karena sadar ataupun enggak pasti aku pernah membuat mereka semua kesal.

Aku tahu nih, pasti kamu mau tanya tentang jodohkan???? huhfff, kalau aku jadi artis pasti kamu sudah seperti media yang lari-larian ngejar aku ya, hehheh (Pede banget)
Ya, mau minta jodoh yang baik (Walaupun akunya belum baik), malah entah kenapa ya blogy, aku tidak mau jatuh cinta pada siapapun.

Aneh ya? harusnya makin tua sudah harus mikir ya, buat planing ke depannya. Aku bingung blogy, sekaligus aku takut, kalau jatuh cinta, dan ternyata "dia" bukan jodohku, pasti nanti yang jadi jodohku, akan nangis-nangis kalau baca tulisanku tentang orang yang aku suka.

Aku kan orangnya mudah belajar, aku akan belajar mencintai seseorang yang mencintaiku, walaupun aku harus jujur apakah dia bisa menerimaku. segala rasa sakit hatiku dahulu ( Kalau dipikir-pikir, aku tuh bodoh banget deh blogy, koq aku bisa sakit hati ya, sama orang yang bahkan tidak pernah menyakitiku?)

kalau orang yang dulu pernah aku sukai tahu perasaanku dan tahu aku sakit hati, karena dia. Tidak mau pacaran dengan orang lain karena menunggu akan bertemu lagi dengannya, menyalahkannya karena aku tidak bisa menerima orang lain. Pasti kalau dia tahu, dia bisa marah dan kesal sama aku (Walaupun yang aku tahu dia orangnya baik sih blogy)

Tapi dia pasti akan bingung banget sama aku, kenal dekat aja enggak? ngomong aja cuma sekali dua kali, terus, kalo dia cuma ngasih senyum doang, apa itu bisa dibilang suka? enggak kan? (Pasti bukan sama aku saja dia senyum, mungkin juga sama mbak-mbak kantin sewaktu ngambil nasi juga dia senyumin, kenapa aku harus marah dan menyalahkannya, kalau dulu senyumnya bukan hanya buat aku???
aduhhhh aku itu memang bodoh ya blogy?) tapi jangan kasih tahu sama siapa-siapa, blogy? *janji loh*

terlepas dari sudahnya menyadari kebodohan diri sendiri, aku mulai bisa memahami hatiku. namun aku terlalu jatuh cinta kepada orang itu....
Orang itu????? Entahlah siapa orang itu?
Yang pasti Allah SWT, telah mengantarkanku bertemu dengan orang-orang beriman, Awan dan Senja.
(Masih ingat kan Blogy...) Aku hanya ingin menjadi teman, sahabat bahkan saudara seiman dengan mereka. karena aku terlalu sadar bahwa aku tak lebih pantas untuk itu.

Awan, memang tak bisa ditampik pesonanya, keren, beriman dan mudah bergaul dengan siapapun. Namun aku dan awan memang mempunyai dunia yang berbeda. Aku walaupun mudah ceria didepan teman-temanku, katanya aku "tim Hore" aku tidak terlalu suka pada keramaian, sejak kecil aku suka membaca dibandingkan jalan-jalan. suka perpus dibandingkan  mall, dan suka sendirian. Awan yang aku lihat adalah orang yang energik, mencoa hal-hal baru, selalu bersemangat dan berilmu.
sedangkan aku "Apa atuh"

Aku selalu berdoa untuk seorang yang sudah menjadi jalan pembuka hatiku, agar dia mudah mendapatkan kebahagian, ada seseorang yang Allah cintai untuknya, untuk menemaninya dalam setiap senang serta gundahnya. Karena aku tidak pernah berani untuk berharap, untuk seseorang yang seperti dia. Aku tahu dia orang baik, walaupun agak sedikit narsis ya, foto-fotonya itu loh, heheheh, banyak banget tapi biarin ajalah karena mukanya juga bagus kan :) mungkin itu cara dia mengekspresikan dirinya, seperti aku yang suka menulis, mempublish, tapi aku ingin diketahui tulisanku apalagi tentang hal yang pribadi.  hehhehe lucu ya :)

Blogy, aku sadar mengapa Allah mempertemukan aku dengan Kuning dan Awan, mungkin agar aku bisa merasakan yang namanya jatuh hati, sakit hati dan re-generasi hati kembali ya?. Seperti Film Animasi Inside Out, keren banget. Joy, sadness, dirgust, Angry and fear.

Selain Awan, aku bertemu dengan Senja, Entah apa yang aku pikirkan tentangnya. Seseorang yang pendiam, tak jauh beda denganku, namun dia benar-benar pendiam. Tak peduli pada sekitarnya namun terkadang ketika kita bertemu kita bisa menjadi seperti orang yang saling kenal, namun entah kenapa tiba-tiba pula kita bisa menjadi seperti orang asing.

Entahlah aku tak mengerti, Namun saat aku melihatnya sedang digoda oleh beberapa cewek dan dia tidak tergoda, aku makin penasaran dengannya, "Koq ada cowok seperti dia?" namun rasa penasaranku berujung kepada jawaban yang sama, dia tidak menggubrisku. Tadinya aku pikir aku mulai menyukainya namun untuk apa aku menyukai seseorang yang tidak pernah mau peduli dengan kehadiranku.

Jujur aku takut sakit, seperti dulu, aku sendiri yang membangun, aku juga yang harus menghadapi kenyataan yang tak sesuai dengan harapanku. Namun sempat sih dia menanyakan pekerjaanku, tempat tinggalku, namaku (bukan dia sih, lebih tepatnya temannya yang menanyakan semua itu padaku). Namun aku juga tidak mau menempatkan dia terlalu dalam dihatiku. aku takut bila ada seseorang yang menyukaiku dan dia beriman kepada Allah, dan ingin bersamaku dalam kebaikan, aku takut tidak bisa menerimanya.

Jadi lebih baik, aku akan belajar mencintai orang yang berani dan mau mencintaiku. Dengan segala kekurangan, kejelekan dan keburukanku, dan akupun aku sabar dengan semua kekurangan padanya dan akan mensyukuri segala kelebihannya. Semoga saja aku bisa menemukan jodoh seperti "Orang Itu?"

Blogy, udah dulu....
In shaa Allah lanjut Besok yach.... :)


Rabu, 29 April 2015

waktu adalah saksi pertemuan kita....



Waktu bagaikan saksi atas petemuan-pertemuan kita. Namun waktu terlalu bisu untuk mengungkapkan rasa itu. Terlalu malu untuk memilih apalagi tuk berani menintaku.
Satu hal yang harus kau tahu, aku memang mencintaimu, tapi tak ada  niat sedikitpun tuk menggugurkan keimananmu, apalagi menggodamu tuk keluar dari garis batas suci.
Sadar atau tidak matamu menunjukan ada cinta dihatimu untukku. Entahlah apa aku yang kegeeran saja atau aku mampu membaca tatapanmu.
Bila memang benar, engkau mencintaiku, Entah mengapa kau terlihat tersiksa bila bertemu denganku. kau seolah tidak mengenalku, bahkan  begitu sinis untuk memandangku. Kau mungkin akan membiarkan semuanya seakan tidak terjadi apa-apa. Kau berhasil menipu hatimu sendiri bahkan kau menanamkan keraguan penuh sesak dalam setiap tarikan nafasku.
Kau sendiri tidak pernah berani tuk mengakui kau mencintaiku, bagaimana dengan aku? Apakah aku harus terlalu berani tuk menyuguhkan cintaku dihadapmu?
 Tidak…! Aku memang menjujung tinggi cinta, aku tidak pernah marah dengan siapapun yang mengataskan nama cinta, tapi tidak untuk perbuatan yang akan merugikan. Aku tidak pernah punya maksud menggodamu, bahkan mengusik ketenangan hatimu.
Mungkin jauh sebelum bertemu denganku, hatimu jauh lebih bahagia. Maafkan aku atas pertemuan kita yang tidak pernah aku pinta dan mungkin akan kau sesali.  Maafkan aku atas senyumku yang membuatmu bahkan tidak bisa terpejam karena terlalu takut mendapati bayang manis diriku dalam gelapmu.
Maafkan aku atas semua sikap yang bahkan kau mengerti benar ada rasa dalam setiap langkahku ketika bertemu denganmu. Maafkan aku atas tubuhmu yang semakin kurus karena tidak nafsu makan karena terlalu memikirkan, apa yang akan terjadi selanjutnya atas pertemuan kita sejak saat pertama? Maafkan aku atas rasa cinta yang penuh tersiksa, yang bahkan ketika kita saling pandang ada hentakan kuat yang kau tahan kuat didadamu.
Aku begitu jahat, membuat harimu terkadang mendung, terkadang berwarna. Aku memang jahat karena membuat kau begitu gelisah karena tidak pernah lagi bertemu. Mungkin sebaiknya kita tidak pernah bertemu atau mungkin lebih baiknya kita hentikan saja rasa dari sejak awal pertemuan itu.
Sebenarnya aku tidak rela, karena aku belum mendapat jawaban atas pertemuan kita. Namun cintaku tak menuntut kau seperti itu. Makin tenggelam dalam kebimbangan, terlalu khawatir melebihi khawatirkan dirimu sendiri. Tak ada senyum manis, malah terlihat kau terlalu menyembunyikan sesuatu yang hampir meledak didalam pikiranmu.
Kau tak seharusnya kau seperti itu, terutama pada saat kau mencintaiku. Aku tidak ingin kau tidak bahagia karena mencintaiku. Tersenyumlah sebebas merpati, bergembiralah seperti gerombolan gajah ketika berada dalam satu kelompoknya.
Kita bisa menjalani ikatan seperti semut, walaupun tak menjadi sepasang, kita bisa bersama dalam menjadi teman mencari jalan. terpisah untuk bahagia. 
Kau yang memilih tuk mencintai secara diam-diam. Dan aku memilih menunggumu mengungkapkan hal itu, namun aku salah. Tak seharusnya aku menunggu akan datang saat itu karena kau tak akan bicara tentang rasa antara kita.
Ingin aku memaksamu, mengatakan hal yang akan membuatku bahagia namun sepertinya aku salah. Apa hakku! Bila kau memilih tuk tetap diam dalam mencintaiku. Tak ada sebuah alasan yang mampu membuat dirimu berubah kecuali kau benar-benar memintaku.
Biarlah seperti ini, seperti kita pertama kali saling kenal. Hanya ada kata sepatah namun tak berasa.

Minggu, 05 April 2015

Berikan Aku sebuah Pena

Berikan aku sebuah Pena
akan kukutulis bagaimana kau mencariku bahkan menemukanku...

ketika langit sudah gelap, Malam!
Pandanglah keatas...
Ketika semuanya sudah lelah dan terbuai oleh mimpi indah
Kau justru mampu melihatku...
Namun tak mudah menemukanku karena 

Aku tertahan diantara jutaan bintang malam.

Pintalah aku dalam doa-doamu
Pintalah aku dalam setiap sujudmu terutama diseperempat malammu
Pintalah aku dengan kedua tanganmu dan dengan lisan baikmu
yang mungkin akan mampu menggetarkan Singgasana-Nya.

Kau tidak bisa menemukanku di tengah mentari sedang sibuk dengan sinarnya,
disaat Awan sedang berkejaran membuat lintasan dilangit
bahkan ketika senja sedang membuka cakrawala

namun kau mampu  melihatku ketika bintang-bintang bermunculan. walaupun kau harus menggunakan hatimu untuk menemukanku.
 
Mudahnya bagi-Nya mempertemukan kita bahkan menyatukan kita
Maka pintalah aku kepada-Nya

Keinginanku

Andai kamu tahu apa yang kumau?
Mungkin akan menjadi yang aku butuh?
Tapi aku ragu itu menjadi mau-mu jua

Karena aku cukup sadar siapa aku?
Dan siapa kamu?

Tidak...!
Kita tidak berbeda, melainkan kita memang sepasang.
kita sepasang bukan seperti sepatu yang tak bisa
hilang salah satunya, karena tak kan berguna bila sendiri...

Kamu tahu, begitu sakit aku menyukaimu...
Entah apa, yang bisa kukatakan pada hatiku sendiri.
Aku menyerah dalam mencintaimu...
Aku sendiri yang ingin memadamkan rasa cinta ini

Bukan...Ini bukan salahmu...
Tapi salahku yang memilihmu tuk ku cintai...

Sekali lagi ini bukan salahmu...
Aku terlalu takut mencintaimu...karena aku sendiri tahu
aku tidak akan dapat yang aku inginkan...

Kau terlalu bagus untuk sebuah teratai yang dunianya hanyalah kolam kecil...
Tak seharusnya punguk merindukan dunia rembulan..
Tak seharusnya mawar mudah menyebarkan wewangian
Tapi begitulah Cinta

Mudah memberi walau tak harap diberi
Mudah mengasihi walau tak disayangi
Mudah mengerti tanpa harus basa-basi
Dan seharusnya mudah menyudahi tanpa harus meminta apa arti selama ini....

Entri yang Diunggulkan

  BENCI Siapa kau? Beraninya membenci manusia yang sama hinanya dengan dirimu Siapa kau yang masih menginjak tanah merasa sedang menjunj...